Minggu, 04 November 2012

Pelangi di Atas Ilalang



Mungkin ini hari terakhir aku, ketika sudah melepuh kulit kakiku dan penat  seluruh tubuh hampir menggrogoti hidupku busur waktu yang meluncurkan detik demi detik hingga busur waktu berikutnya. Tak segan pula mengencangkan semua otot tubuhku,  demi sebuah “prosa hidup” yang mampu bertahan lantaran terselip di padang ilalang, di tengah hiruk pikuk manusia menebarkan kemunafikan dan lalu lalangnya durjana yang menguliti wajah kehormatan insan. Sebuah bisik hati yang menyerah kalah ini segera kutepis,hingga kabur entah kemana.
           
Aku dan Rosma mulai melekatkan sebuah pelangi,diantara terik matahari, gerimis ataupun hujan badai bahkan dikala langit berniat runtuh, lantaran kepengapan debu dan asap ego manusia. Pelangi itu tiada seberapa indahnya, namun aku dan Rosmapun mampu menitinya, dengan segala senyum Rosma yang “menawarkan hati” kami berdua selalu berpegangan tangan tangan ketabahan hati, dari gangguan durjana yang hanya berisi dasing dan tulang jemunafikan. Mereka layaknya iblis berbaju manusia. Yang siap melahap bilah hidup manusia yang tertatih.

Beruntung, meski aku dan Rosma adalah lengan lengan rapuj, namun pelangi yang kami gambar di langit telah bertaut kokoh di puncak Mahameru “kemulian hati” dan pungak Mount Everest “cita cita yang tak pernah memudar”, sehingga sebesar apapun raksasa Dajjal yang bakal menghempaskan kami selalu kandas di gulung ombak Laut Selatan yang kami semai di lubuk hati. Begitupun Rosma, wanita berkulit putih dengan paras ayu dan berambut ikal, yang pertama aku temui telah tergolek lesu di peraduan dunia yang beraroma hambar.

Sedangkan aku tak lebihnya biji ilalang yang terbawa angina kemarau terhempas dari tempat satu ke tempat lainnya. Bukankah manusia bijak akan terlahir  dan dibesarkan dari berbagai benturan yang menderanya. Sehingga jadilah dia manusia yang berhati kokoh layaknya kekokohan benteng Shalahudin Al Ayyubi di negara Mesir. Inilah yang barangkali menjadi kekuatan diriku untuk menggapai tangan Rosma dan mengajak untuknya untuk kembali tegak berdiri, meski di padang  ilalang.

Benturan benturan hidup layaknya bumbu penyedap hidangan di atas meja makan bambu di tengan rumah papan dan bertaplak kain lusuh, selalu saja kami hadapi dengan canda ria. Termasuk kala  Rosma bercerita tentang rayuan rayuan gombal Om Junaedi yang berniat membeli tubuhnya, gairahnya bahkan sanggup membeli hidupnya.Laki laki tua bangka berhidung belang namun kaya raya itupun sanggup memberikan apa saja asal Rosmapun  bersedia menuruti hasratnya mengayuh perahu di telaga yang menghitam airnya. Namun Rosma tiadapun mau bergeming, meski suaminya Adnan Handoyo adalah hanya seorang satpam di kantor perusahaan swasta.

“Lantas kalau aku menuruti kedurjanaan tua bangka itu, siapa yang akan menunggu Anis sama Ilham, Mas”, Rosma bergayut di lenganku. Hasrat hatinya hanya sekedar ngambek mengharap belay kasihku. Akupun tak kalah menggelitik hatinya, mengharap roman mukanya yang merah padam atau malu tersipu, kala aku disodori gambar wajah ayu Rosma penunggu kahyangan Jonggringsaloko tempat bersemayam Bathara Guru.

“Katanya kamu pengin punya mobil”
“Aduh,,Mas Adnan kenapa ngomong kaya gitu, sih !”
“Lho…barangkali aja kamu pengin”
“Aku memang ingin, Mas, Buka hanya mobil. Aku ingin punya rumah tembok yang kokoh kaya kantor kabuipaten. Ya Mas ?”
“Iya aja, pantesan kamu sering ngelamun “
“Nglamun apa “
“Ya , nglamun  Om Junaedi, kan ?”
“Memangnya aku wanita segampang itu, Mas. Aku kasihan sama Anis dan Ilham. Aku hanya punya mereka berdua”
“Lantas, aku milik siapa ?”
“Ya sana, kembali aja ke Neng Herwati, cewek Bandung yang genit kaya Hema Malini

Wajah itulah yang aku tunggu, kala bulan bersemayam dalam dirinya. Sembari dia merobohkan wajahnya di bahuku, ketika itu pula sama sekali hatiku  menjadi teduh. Kekhawatiran selama ini yang selalu timbul di hati menjadi sirna. Meski selama ini Om Junaedi menawarkan rumahnya kepada Rosma,  sebagai jaminan atas kehangatan yang bakal diterima dari bidadariku telah sirna dan berkeping menjadi debu terbawa angin Gunung Merapi.

Rosmapun kian menghangatkan tubuhnya dengan memeluku lebih rapat. Seakan dia tahu kegetiran hatiku kala mendengar tentang Om Junaedi, pemilik perusahaan tempat Rosma bekerja.

‘Aku melihat Anis dan Ilham tidur nyenyak, itu saja membuat hatiku teduh. Aku pernah meraskan kebahagian semu sebelum Mas Adnan memikatku. Bagaimana rasanya hati teriris dan menjadi berkeping. Aku tak mau terulang yang kedua kali Mas !. Apalagi anak kita lagi lucu lucunya, ada ada saja kelakuan mereka berdua tiap hari. Akupun larut dengan canda mereka,kelakuanku jadi mirip mereka berdua.Kamu bahagia Mas ?”

“Ah, kamu seperti anak kecil aja. Kaya gitu nggak usah kamu tanyakan !”
“Barangkali aja kamu masih mendambakan Neng Herawati, yang kabarnya punya salon yang besar di Bandung. Dia kenes dan genit kan, Mas ?”
“Baru saja kamu tanyakan aku bahagia apa  nggak,  sekarang kamu ungkit lagi masa laluku”
“Aku jadi cemburu Mas,  kalau dengar kisah masa lalumu”
“Kan aku sudap pnya kamu. Lagian Herawati kan sudah marrid sama temenku. Bagiku yang sudah ya sudah ?”
“Tapi Mas kan dulu pernah jadi morfinis, saat kehilangan cewek jelita itu yang penuh janji-janji. Mas frustasikan ? ditinggal sama Herawati “
“Aduh ampun, Ros !. Secuilpun aku nggak bakal mengharap dia lagi. Setelah aku ketemu kamu dengan kekagumanku, aku sudah berniat membenahi diriku. Percaya Rosma ?”

Rosma segera menarik bahuku sembari menyodorkan ciuman hangat kepadaku, lantas pelangi warna warni itupun terbesit di tengah langit. Meski hari telah larut malam, langitpun berjelaga hanya kerlipan bintang bintang tersenyum ceria. Tapi itulah pelangi milik sebuah cinta anak adam yang kokoh terjalin dalam relung hati mereka. Kini dengus nafas dan peluh memnuhi kamar pengantin mereka berdua. Rosmapun menggelepar meniti pelangi di atas illalang. Kedua tangan insan itupun saling bertaut erat di tengah bara cinta yang menyala hingga akhirnya hilang ditelan sang fajar.

****
Waktu terus berjalan hingga sampailah perjalan itu hingga suatu sore, aku melihat Rosma pulang dari kantor dengan bulan yang tiada lagi bersemayam di wajahnya. Bahkan kedua matanya kini sembab. Wajahnya merah padam, pertanda selaksa derita membebaninya. Akupun segera mletakan harian sore yang sempat aku baca. Seribu misteri kini mengganjal halaman hatiku,

“Ada apa Ros !”
“Om Junaedi memang laki laki keparat !”
“Ada apa, dia menyakitimu ?”
“Nggak Mas !”
“Lalu apa “
“Dia kembali merayuku, bahkan kini dia lebih berani lagi?”
“Maksud dia bagaimana “
“Kini dia lebih gila lagi, aku mau diberi rumahnya yang di Magelang sekaligus mobil Xenia. Asal aku mau menempati rumah itu “
“Lantas aku mau tinggal di mana ?”
“Engkau dan anak-anak tetap di sini”
“Wong edan !, lantas kamu mau “
“Apa Mas sudah nggak percaya sama aku”
“Ya aku percaya Ros, tapi mengapa kau pulang pulang sembab mata kamu”
“Sebab kalau aku tolak, lebih baik dia nggak ngliat aku lagi. Dia tidak ingin tiap hari melihatku lagi”.
“Kurang ajar, besok aku ke kantormu!”
“Nggak usah , Mas. Dia melangkah seperti ini karena dia siap menerima resiko apapun. Dia mengancamku, apabila kamu berulah macam macam, dia tidak segan segan menyakitimu?”
“Aku tak perduli, masa laluku penuh dengan kekerasan, akupun tidak takut siapapun !”
“Aku tahu itu, tapi akupun ingin  masalah ini cepat selesai.Makanya aku memilih keluar dari perusaaan itu”

Angin sore melintas di beranda rumah sederhana itu. Daun daun pisang saling bergesekan menimbulkan suara gemerisik. Tiupan angin itupun membuat mereka mampu mendinginkan bara api amarah dalam hati merek masing masing

“Mas aku takut ?”
“Takut sama siapa, biar aku hadapi semua masalahmu”
“Aku kehilangan pekerjaan, bagaimana nanti Anis dan Ilham”
“Ros, yang Diatas Sana juga mendengar keluh kesah kita, sebagai manusia yang jadi korban ketidakadilan dan kedurjanaan manusia sombong. Kamu jangan pernah takut dengan kehidupan. Kita beruntung selama ini kehidupan justru mendewasakan kita, sehingga kita  sudah tidak mampu lagi merasakan  suatu penderitaan.Percayalah, Ros ! bila masih ada cakrawala di ufuk timur, pasti semua kehidupan akan ditebarkan oleh Sang Maha Pencipta, asalkan kita pandai bersyukur “

Angin Gunung Merapi bertambah kencang, lantaran mereka segera ingin mendengar prosa romantis anak adam yang saling mengisi kehidupan dengan cinta yang kokoh, meski apaun halangan yang menghadang. Angin gunung itupun makin bertiup kencang lantaran memburu angina angin kembara lain, agar segera duduk bersimpuh di beranda rumah mungil itu. Adnan dan Rosma kini kembali larut dalam canda ria kedua anak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar