Minggu, 04 November 2012

Nyanyian Hutan Jati



Sepanjang perjalananya, Hans  hanya melihat pohon pohon jati yang berjejer di kanan kiri jalan desa, yang masih beralas tanah liat dan meliuk ke kanan kiri dan naik turun, seperti Barongsai yang menggeliatkan tubuhnya di hentak tambur Imlek. Kabut dingin musim hujan di akhir Desember tahun ini terus saja menenggelamkan angan Hans yang masih terbujur kaku, hatinya kini telah diterkam ganasnya kehidupan dan ketersudutan dirinya pada bibir gincu yang semula mengalirkan gairah dalam liku tubuhnya.
Hans melangkah hati hati mendekati rumah setengah papan di perkampungan di seputar  hutan jati. Rumah itu masih tertutup rapat, meski hari sudah mulai terang. Semburat sinar matahari sebagian telah menerangi beranda rumah papan itu. Siul aneka burung hutan terus memagutkan simphony melangkonis pada tepi hati Hans. Kembali sebuah harapan muncul di tengah kelembutan pagi ini, agar Vera menghabiskan liburan tahun baru di kota asalnya yang sunyi dan masih hijau alami seperti ini. Hans tidak mampu menyembunyikan desir bilik jantungnya bahwa di telah terkesima dengan hijuanya hutan jati di seputar rumah ortunya Vera. Apalagi bila birama hidupnya itu disertai hadirnya Vera.
Pintu kayu jati di depanya kini terbuka perlahan ditandai dengan suara berderit karena gesekan antara kayu jati yang sudah tua namun tetap kokoh.  Hans melangkah mundur dan segera merekahkan sebuah senyum pada nenek tua berambut putih yang juga ramah menyambut senyum Hans. Denga senyum tetap berderai di bibirnya yang sudah keriput, nenek itu mencoba menelisik pria di depanya yang asing. Nenek tua itu menjadi terperangah setelah tahu siapa dirinya dan maksud kedatanganya.
“Vera baru saja datang tadi habis subuh, sekarang dia sedang istirahat. Silakan Mas Hans duduk dulu, biar saya bangunkan Vera “
“Ah, biarkan saja dia istirahat Nek!, nggak usah dibangunin. ”.
Vera di bilik papan yang berada di tengah bangunan  kuno itu rupanya belum mampu menyelinap dalam mimpi indahnya, meski rasa penat menggigit sekujur tubuhnya karena seharian penuh dia menggayutkan pada kereta api fajar Jakarta Purwokerto. Rasa tidak percaya kini mulai menusuk denyut jantungnya, mengapa Hans bisa berada di rumahnya, apa maksudnya dan sejuta pertanyaan pada dirinya kini memenuhi benaknya. Apa yang dia cari di Desa Margasari yang terpencil ini. Bukankah Jakarta mampu menjanjikan segalanya untuk Hans yang sukses sebagai manager di group  perusahaan milik papanya sendiri. Mengapa di akhir Bulan Desember dia ada  mengapa pula Hans rela menepiskan kesempatan yang mahal di akhir tahun ini.
Sementara hujan Bulan Desember mulai bangkit lagi membasahi bumi hutan jati, Vera bergegas menuju ke beranda beralas tanah di depan rumahnya dengan penasaran masih
menggayuti perasaannya. Sorot mata Vera masih menyimpan rasa kagum pada pria lajang  yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya, tapi mendung hitam yang pernah kokoh di hatinya belum hilang betul saat Hans menghempaskan dia begitu saja.  Namun sorot mata kebencian sengaja Vera sembunyikan, tertutup rasa iba pada diri Hans yang begitu jauh meluncur ke desanya dari Jakarta.
“Mas Hans!, mengapa repot repot datang ke sini mas. Margasari hanya desa kecil, Mas!”
“Aku tak mampu mengatakan, Vera ?”
“Jauh jauh dari Jakarta mas hanya mau diam seribu bahasa ?”
“Entahlah, Vera !”
“Apa karena tidak kerasan di sini Mas ?. Tidak semestinya Mas Hans di akhir tahun berada di desa kecil ini ?” . Serasa ada jutaan jarum kecil di jantung Vera yang menggelitikan penasaran, mengapa pria penuh pesona itu datang ke desanya. Padahal  eksotis Kota Jakarta mampu memingit Hans dengan sejuta pesona bunga bunga ranum. Pesona itulah yang menyihir Handoko Susetyo untuk mendapatkan pesona itu meski dia harus menghamburkan kekayaanya beberapa tahun silam. Sehingga Vera harus menepi tenggelam dalam kesepian, meski glamour kota itu telah disodorkan oleh lampu-lampu jalan warna warni layaknya pelangi yang tersesat di hutan beton.
“Mengapa giliran kamu yang tersudut dalam diam, Vera ?”
“Aku lagi terjebak dalam symphoni hutan jati di akhir tahun ini. Hutan Jati ini adalah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Meski sejak lulus SMA aku menggayutkan hidup sebagai buruh pabrik. Namun aku tekuni sambil aku kuliah akunting dan sekarang aku bisa menjadi manager akunting”. Vera mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya.Betapa berharganya sepenggal hidup yang dia arungi. Oleh kaena itu, tidak ada seorang priapun di dunia ini bisa melecehkan dirinya begitu saja.
Bagi Vera  tujuh  tahun waktu yang telah dia lalui, adalah sesuatu cukup berat menerpanya. Betapa tidak, dengan  hanya bermodal percaya diri dan tangguh sebagai buruh konveksi di Jakarta,  dia mampu menempatkan dirinya sebagai manager akunting yang handal. Keberhasilan seperti itu, tidak mungkin direngkuh oleh wanita yang kolokan dan mudah tergiur pada hipnotis jaman. Pengalaman pahit yang dia dapatkan dari perlakuan Handoko Susetyo menambah dewasa dan
tangguh.   Sebuah hikmahpun telah terselipkan dihatinya. Bukan berarti dia dengan lebay akan memohon pada Hans untuk bersanding di sampingnya kembali.
***
Matahari bertambah tinggi, tanah yang  berwarna kehitaman diguyur gerimis sejak pagi kini mulai mengering. Seteguk demi seteguk kopi kental telah membasahi kerongkongan Hans yang sama seperti Vera, terjebak  dengan nafas hutan jati. Namun sihir hutan jati bagi Hans hanya menumbuhkan penyesalan pada dirinya. Sehingga diapun mengharap kehadiran seribu malaikat untuk menyihir hati Vera agar mau membuka hatinya, menepiskan awan hitam yang kemudian mampu membirukan cerah langit.
“Maafkan aku, Vera !, aku menyesal ?”
“Mas Hans !, aku rak pernah sakit hati dengan masa lalu !, Lama aku telah memaafkan Mas Hans !. Mas Hans kan tahu keadaan keluargaku sekarang?. Apa apa yang aku peroleh di Jakarta adalah hasil perjuangan wanita desa yang tangguh,  bukan wanita yang mengaku modern tapi dia rapuh”.
“Terimakasih Vera !, masa lalu itu begitu menghantui aku, Vera !”
“Mengapa Mas !, Mas Hans kan sudah berhasil mendapatkan segala sesuatu yang mas inginkan ?”
“Vera, sebenarnya bukan hanya maaf yang aku harapkan di tengah hutan jati ini “
Vera menjadi tidak tahu bagaimana di harus menjaga hatinya yang liar. Meski dia adalah wanita tangguh dan telah kenyang makan garam penderitaan, tapi Vera juga insan  yang masih  menyisakan sifat feminis. Mengapa sikap Hans yang lebay  hadir di depanya kini, saat dia telah  berhasil merawat luka hatinya dan mulai menerima kehadiran pria yang mengerti segalanya tentang Vera.
“Sudah sewajarnya kan Mas !, bila kita saling memaafkan sebagai seorang sahabat ?”
“Betul Vera !, akupun demikian. Terutama papi yang dulu sempat menghancurkan hidup kamu “
“Oh ya, sampaikan salam saya pada papamu saat mas kembali ke Jakarta !”
“Dia sudah meninggal tiga bulan yang lalu”
“Aku turut bersedih atas kematian papamu, aku juga turut kehilangan papamu, dia ayah yang tegar. Sebenarnya kita semua membutuhkan figur seorang ayah seperti papamu. Karena papamu tidak pernah menganggap enteng hidup ini. Memang
adalah suatu kenyataan yang harus dijumpai tiap manusia, bahwa hidup ini tidak segampang yang kita duga”
“Kamu masih dendam dengan papa ?”            
“Beberapa bulan setelah Mas Hans meninggalkanku, aku sangat goncang. Kata kata, sikap dan penilaian papa terhadapku sungguh menyakitkan. Namun lembaran itu berhasil aku tepiskan dengan menyibukan diriku berkuliah di jurusan akutansi. Sementara perusahaan menuntutku untuk terus mencermati audit yang ketat. Sehingga aku terhanyut dalam hidup yang memang harus kuhadapi dengan kerja keras. Di situlah memang seharusnya Vera berdiri , mas !”
“Aku sungguh menyesal Vera, seharusnya aku tidak menuruti papa untuk meninggalkan kamu, Vera !”
“Mas Hans tidak  perlu menyesal, karena itulah sebuah kehidupan. Beruntung aku dilahirkan di tengah hutan jati yang terpencil, yang tidak mampu menjanjikan setiap manusia yang hidup di tengah tengahnya. Aku masih ingat betul, Mas !. Betapa masa kecilku selalu dihadapkan pada perjuangan  dari mulai mengangsu air hingga kebutuhan lainnya”
“Apa hubunganya dengan ini semua, Vera ?”
“Aku wanita yang berasal dari desa yang tanahnya tidak subur. Sehingga keluargaku miskin dan tak mampu membiayai sekolah hingga perguruan tinggi. Karena itulah aku harus berhati besar dalam menghadapi segala kehidupan. Dalam keadaan tersudutpun aku harus mampu menggeliat untuk bangun, karena aku tidak punya apa apa Mas !”
“Tapi, bukan berarti, aku telah kehilangan kesempatan ke dua, Vera !”
“Jenjang Mas Hans masih sangat panjang, Mas Hans masih punya kesempatan untuk mencari wanita lainya yang layak”. Sebuah senyuman tulus merekah dari bibr Vera, wajahnya kini memerah. Handoko Susetyo sebenarnya telah akrab dengan senyuman wanita ayu dan flamboyant yag duduk di depanya. Meski Vera adalah wanita desa yang lahir dan dibesarkan di tengah hutan jati. Namun sifat feminis yang ada padanya sama sekali tidak berbeda dengan wanita gaul lainya yang pernah dia temui.
Meski segala sesuatu tentang Vera pernah dia lempar jauh jauh di tebing egonya yang kokoh. Namun dia sendiri tidak tahu, mengapa kini dia harus meraih senyuman Vera yang pernah dia  lentingkan jauh jauh. Gelimang harta dia dan keluarganya telah membutakan mata hatinya, apalagi papanya yang menginginkan wanita di samping Handoko Susetyo adalah tipe wanita yang sukses segalanya.
Tetapi manusiapun tahu bahwa apa yang digapai manusia belum tentu disodorkan oleh Yang Kuasa. Sebuah kenyatan telah menorehkan sesuatu yang lain dari ambisi Kemal Iskandar ayah Handoko Susetyo, yaitu sebuah kanker ganas stadium IV yang memenuhi jantungnya dan pebisnis yang tangguh inipun akhirnya menyerah melawan kankernya. Meski dia selalu berhasil dalam memenangkan persaingan dengan pebisnis lainnya. Bukan hanya itu saja Kemal Iskandar juga dengan keras menginginkan agar putra-putra mengalami kegagalan dalam menghadapi hidup mereka, termasuk hasrat menjadikan  Handoko Susetyo menjadi pebisnis ulung. Maka kehadiran Vera di sisi putranya membuat laki laki paro baya itu menjadi gerah.
“Hans, kamu mampu mendapatkan wanita tipe apa saja !. Tetapi kamu malah memilih wanita udik, bisa apa dia dan apa kerjanya ?”
“Dia kerja di perusahaan konveksi, pap !”
“Apa jabatanya ?”
“Dia staf akunting, kepercayaan Om Budi”
“Apa dia mampu mendampingimu dalam bisnis yag sedang papa rintis?”
“Dia  kan akunting, pap ?
“Hanya itu !, apa dia mampu menyuntikmu dana bila dibutuhkan demi konglomerasi yang akan papa bangun ?”
“Tapi pap !, Hans kan butuh pendamping hidup,  bukan pendamping bisnis ?”
“Hans kamu tahu apa !, dalam sebuah group bisnis semua anggota keluarga harus turut aktif di dalamnya. Sudahlah!,  kamu cari calon lain saja, Papa mama tidak mau kamu berhubungan dengan  dia lagi”. Hans terpaku dalam perasaan yang tidak menentu. Sekujur tubuhnya terasa dipagut aliran listrik dari petir di siang hari bolong. Kini dia hanya mampu merebahkan punggung di sofa  warna hijau lumut dan bercorak Timur tengah. Selama ini dia masih menggayutkan hidupnya pada papa dan mamanya, meski dia telah lulus  Administration Bisnis of Harvard University tiga tahun silam, maka apa yang dikehendaki papanya sama sekali dia tak mampu menepisnya. Termasuk mengenyahkan Vera dari sisinya.
***
Jarum waktu terus menerbangkan asa manusia manusia yang memburunya hingga terbang ke langit. Terkadang pula jarum waktu menenggelamkan manusia dalam telaga hitam yang paling dalam. Hasrat Kemal  Iskandar untuk mencakar dan  merobek langit taka ada yang mampu menghalanginya. Milyar demi milyar rupiah keuntungan perusahaanya terus dia tunai,  sementara dia tidak pernah menghiraukan ketahanan fisiknya yang terus menerun akibat hidupnya terbelenggu dengan uang dan uang.
Nafasnya kini tersengal, wajahnya pucat pasi sekujur tubuhnya terasa kehilangan tulang belulangnya, akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat dan berobat di Singapor Hospital. Diagnosa demi diagnose diberikan oleh dokter dokter ahli dari Eropa, tapi tanpa menuai hasil yang melegakan. Kemal Iskandar kini terpuruk oleh sesuatu yang tidak mampu dia lawan, maka di akhir hayatnya dia memilih untuk beristirahat saja di tanah air sembari menguntai kenangan hitam-putih hidupnya yang dia lampaui.
“Hans !, kemarilah mendekatlah ke sini !”.Entah kekuatan apa yang ada di dalam diri papanya. Semenjak dua minggu silam, papanya sama sekali tidak mau bicara. Namun kali ini dengan lembut dia mengajukan permintaan secara jelas pada Hans.
“Hans, kau tidak mengajak Vera ke sini ?”
“Tidak papa !”
“Temuilah dia !, ajaklah dia kemari !. Aku ingin memandangnya dan mengajukan maaf pada Vera ?’
“Baik pap !, secepatnya akan aku ajak Vera !”
“Tidak usah terburu-buru Hans. Jika papa kembali menghadap Illahi, sampaikan salam  papamu ya Hans. Hans !”
 “Ya, pap !, akan aku pintakan maaf papa pada Vera !”
“Hans, maukah kamu menerima permintaan papa ?”
“Tentu, pap ?”
“Jadikanlah dia pendamping hidupmu, Hans. Papa yang salah, papa yang memandang sebelah mata padanya. Hans turuti pesan papa ya !”
***
 Jarum waktu terus menerbangkan asa manusia manusia yang memburunya hingga terbang ke langit. Terkadang pula jarum waktu menenggelamkan manusia dalam telaga hitam yang paling dalam. Hasrat Kemal  Iskandar untuk mencakar dan  merobek langit taka ada yang mampu menghalanginya. Milyar demi milyar rupiah keuntungan perusahaanya terus dia tunai,  sementara dia tidak pernah menghiraukan ketahanan fisiknya yang terus menerun akibat hidupnya terbelenggdengan uang dan uang.
Nafasnya kini tersengal, wajahnya pucat pasi sekujur tubuhnya terasa kehilangan tulang belulangnya, akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat dan berobat di Singapor Hospital. Diagnosa demi diagnose diberikan oleh dokter dokter ahli dari Eropa, tapi tanpa menuai hasil yang melegakan. Kemal Iskandar kini terpuruk oleh sesuatu yang tidak mampu dia lawan, maka di akhir hayatnya dia memilih untuk beristirahat saja di tanah air sembari menguntai kenangan hitam-putih hidupnya yang dia lampaui. “Hans !, kemarilah mendekatlah ke sini !”.Entah kekuatan apa yang ada di dalam diri papanya. Semenjak dua minggu silam, papanya sama sekali tidak mau bicara. Namun kali ini dengan lembut dia mengajukan permintaan secara jelas pada Hans.
“Hans, kau tidak mengajak Vera ke sini ?”
“Tidak papa !”
“Temuilah dia !, ajaklah dia kemari !. Aku ingin memandangnya dan mengajukan maaf pada Vera ?’
“Baik pap !, secepatnya akan aku ajak Vera !”
“Tidak usah terburu-buru Hans. Jika papa kembali menghadap Illahi, sampaikan salam  papamu ya Hans. Hans !
 “Ya, pap !, akan aku pintakan maaf papa pada Vera !”
“Hans, maukah kamu menerima permintaan papa ?”
“Tentu, pap ?”
“Jadikanlah dia pendamping hidupmu, Hans. Papa yang salah, papa yang memandang sebelah mata padanya. Hans turuti pesan papa ya !”
***
Angin hutan jati mulai mengajukan protes pada manusia manusia yang bertindak tanpa peduli pada perasaan orang lain. Sementara sinar matahari mulai menerkam bumi Margasari. Atap seng rumah Vera bergerak naik turun dimanja angin Bulan Desember. Hans masih terpaku pada kenangan masa lalu, saat dia bersama Vera sekaligus saat dia menepis cinta Vera sepihak.
“Itulah Ver, aku kesini setelah tiga bulan aku mencari alamatmu”
“Maaf Mas Hans, aku tidak bisa !”
“Vera !, bila seseorang telah memiliki kamu, akupun akan menyurutkan langkah. Tapi bila engkau masih Vera sepeti yang dulu, berilah aku kesempatan yang kedua. Meski aku harus menunggu ! “Jadi Mas Hans menginginkan aku dan  lari dari aku demi papa dan mamamu ?”
“Vera !, aku tidak seperti itu !, memang aku tidak mampu mengucapkan apa yang ada di hati ini !, Cukuplah waktu di depan kita yang akan membuktikanya !. Yang penting bagi aku berilah aku kesempatan yang kedua ini Vera ?”
“Maaf Mas, berat rasa hati ini untuk menerima Mas Hans kembali !”. “Kamu memang harus bersikap seperti ini. Karena yang aku sodorkan pada kamu, adalah bukan sesuatu yang sepele, seperti juga waktu lalu. Namun karena aku belum siap segalanya, inilah Hans Vera !”
Selembut angin hutan jati dan sedamai rumah papan kuno itu, demikianlah perasaan Hans kali ini. Verapun masih membiarkan benak hatinya diliputi berkecamuknya antara masa lalunya dan sikap feminisnya yang iba terhadap Hans. Sementara suara terompet tahun baru mulai memenuhi hutan jati itu***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar