Rabu, 21 November 2012

Bayang Wedus Gembel MERAPI



Di bawah rengkuhan tubuh eksotis Merapi terbentanglah lembah, jurang, hijau tanaman sayur dari sawah dan ladang, yang menebar sepanjang liuk tubuhnya serta gemercik air kali sepanjang tahun dari tubuh raksasa biru itu, yang kadang diam ternyenyak dalam tidurnya dan kadang pula meradangkan amarahnya. Namun di bawah misteri seribu bahasa itu, tetap saja beberapa insan mencoba menoreh peluh dan asa, untuk menitipkan sebilah hidupnya. Bila telah terlelap dalam tidurnya, angin sore yang menyisir punggungnya mampu membawa kedamaian hidup dan kesejukan bagi daun daun sayuran yang telah menggulung lantaran terkaman sinar matahari satu hari penuh.

Namun bila wajah Merapi telah mengisyaratkan suatu duka nestapa, mereka yang bergayut di punggunya ikut serta larut jua dalam tetesan air mata, lantaran meratapi membaranya rona amarah dari wajah Merapi yang tertutup dengan debu dan asap asap yang menjulurkan tangan tangan raksasa penebar maut, yang sama sekali telah buta matanya untuk memburu siapa saja yang diterpanya. Tangan tangan raksasa yang meradangkan pilu itu, telah mampu menghanyutkan suatu kehidupan yang telah direnda oleh insan yang yang selama ini telah mengakrabinya. Namu itulah ego Sang Merapi yang telah menyelinap dengan kuat di kalbu mereka yang berladang di punggungnya, tanpa rasa benci sedikitpun, tanpa mencibirkan bibir mereka dan tanpa sorot mata dendam kesumat pada raksasa biru yang tiada pernah meninggalkan kecantikanya itu.

Demikian juga Hananto, petani desa yang mencoba menebarkan benih sayuran di petak ladangnya agar tetap mampu menggegam separo nafasnya. Agar tetap mampu juga menggapai cita citanya setinggi puncak Merapi yang tiap pagi dan sore selalu dipandangnya, sambil sesekali mengusap peluhnya yang tiada henti membasahi wajahnya, sederas sebuah cita citanya yang terus saja memenuhi nadi darahnya dan berputar memenuhi seluruh sendi tubuhnya, hingga mampu menyimpan cita citanya itu di sudut jantungnya, yang terus berdegup bersama dengan suka dan duka sebuah kehidupan petani ladang.

Roda waktu bergulir begitu saja dan wajah Merapipun tetap membugkam dalam candanya dengan awan awan putih yang berdatangan dari empat penjuru angin. Semai sayuran yang ditebar Hananto telah mulai membuat hidupnya kembali bergairah, panen di musim ini sudah diambang anganya. Sebagian hasil panenya nanti, akan diwujudkan dengan cincin yang akan dilingkarkan di jari manis Maya, gadis desa yang dikenalnya sejak mereka masih di kelas awal SMA di Cepogo beberapa tahu silam. Sebentar ia biarkan cangkul yang digenggam   sejak pagi melintang di tengah pematang ladangnya, persis di samping dia duduk sambil mengatur nafasnya.

Apakah cincin penaut dua hati yang sedang membarakan gairah asmara mampu benar benar melingkar di jari Maya.  Sedangkan kehidupan Hananto dengan Maya adalah dua sisi yang berpisah sejauh jurang jurang lereng Merapi. Hananto harus separoh nafas menggapai tentang sebuah kehidupan. Apa yang dia cita citakan masih bertaut di awan awan kelabu yang sering memenuhi isi langitnya. Sedangkan Maya adalah bidadari kahyangan yang dipingit keluarga RM Pranoto dengan gemerlap lampu warna warni.  Hananto merasa tidak ada kesempatan barang sekuku hitampun untuk bisa memiliki hati perawan desa, yang bertahi lalat di dagunya, berparas lembut dan melangkonis serta santun budi bahasanya. Entah mengapa manusia di muka bumi ini harus mengalami arti dari memiliki dan tidak memiliki, bisik hati seperti itu terus saja bersemayam dalam sudut bilik jantungnya.

Pagi merangkak dengan malas, sementara siang baru saja menuggunya dengan angkuh. Giliran sorepun kini menerjang langit lereng Merapi. Kini semua penghuni lereng Merapi bersiap untuk beranjak ke peraduan di tengah musih hujan yang tak merasakan penat. Hananto masih setia dalam lamunan yang mengambang di beranda rumahnya. Namun lamunan itu segera surut setelah lantai tanah berandanya tiba tiba saja bergoyang perlahan dan bertambah kuat. Diapun segera berlari kea rah dalam rumah untuk segera membangunkan ke dua adiknya dan bapak serta emaknya untuk segera keluar.

Batuk batuk dari puncak Merapi mulai terdengar membahana ke setiap penjuru Desa Gedangan Cepogo, semua penghuni desa terpencil itupun sontak berhamburan memenuhi jalan jalan desa untuk menyaksikan kemarahan sahabat karibnya yang sudah berpuluh tahun mereka mengenal kemisterianya. Namun wajah mereka tetap menyodorkan perasaan tenang dan pasrah dengan selalu menganggapnya Merapi hanya menyampaikan sapanya dalam salam candanya. Namun hari itu Merapi telah menujukan kemarahan yang sesungguhnya dengan mengepulkan awan panas yang membumbung tinggi,  mirip raksasa ganas yang berniat mencekik leher siapa saja yang ditemuinya.

Hananto dan seluruh keluarganya kini bergegas menuju ke tempat yang aman dari terkaman raksasa liar itu, bersama sama ribuan warga lainya yang menuju truk pengungsian yang disiapkan oleh aparat. Namun tiba saja sebuah teriakan kecil memanggilnya dari arah ujung jalan desa.

“Anto, Pak Noto mencari Maya, sejak pagi tadi Maya   menghilang  entah kemana “

“Kamu tahu dari siapa, Yan ?”

“Aku sendiri ikut mencarinya kemana mana, tapi tetap saja Maya menghilang “

“Terus Pak Pranoto sekarang di mana ?”

“Dia dipaksa oleh SAR untuk segera meninggalkan desa ini dan mengungsi bersama kita”

“Yan, beriatahu emak dan bapak, aku akan menyusul nanti. Aku akan mencari Maya dulu. Sampai ketemu di pendopo kabupaten Magelang “

“Anto, kamu gila !. Semua warga sudah mengungsi, sebentar lagi wedus gembel akan menyerang desa ini, Selamatkan diri kamu, masalah Maya serahkan saja tim SAR “

“Ah, masalah Maya biar aku yang mengurus, doalan aku ya Yan dan selamat ketemu di pendopo kabupaten ! “. Belum selesai Anto bicara tubuhnya kini sudah bergerak menyusuri jalan desa Gedangan, untuk menyusuri di mana Maya berada. Hananto tahu persis bahwa Maya sering bertemu dia di sekitar ladang milik bapaknya, disitu pula Maya mencoba untuk menanam anggrek anggek liar Merapi yang ditanam di pot dan diletakan begitu saja di tengah ladang. Itulah salah satu hobby Maya yang tidak pernah terlewatkan. Kadang pula dia mengajak Hananto untuk mencari anggrek anggrek liar di sekitar hutan semak Merapi, sambil menautkan bilah rindunya pada cowok ganteng pujaan hatinya itu.

Peluh sudah membasahi sekujur tubuh Hananto, sementara hujan debu mulai menghalangi pandangan Hananto yang berlari sekuat tenaga menyusuri jalan setapak menuju ladang Pak Noto. Gelegar puncak Merapi sekali sekali terdengar di te;inganya. Namun Hananto tak menyurutkan langkah sebelum dia menemukan dimana Maya berada. Rasa khawatir kini memenuhi seluruh hatinya, apalagi jalan jalan setapak mulai berlubang dan retak akibat gempa yang terus saja menggoyang lereng Merapi. Bau belerang sudah mulai menyengat hidungnya, dimanakah kau Maya, ayolah Maya tunjukan dimana kamu berada. Oh Tuhan lindungi Maya, semoga dengan LindunganMU Maya bisa bersama aku mengungsi. Tak henti hentinya hati anak desa ini terus saja memanjatkan doa.

“Maya kau di mana ?”. Hampir habis tenaga yang digunakan pemuda desa itu untuk  berkali kali teriakan memanggil nama kekasih pujaan hatinya itu. Sementara itu kepalanya sudah mulai pusing akibat bau belerang yang menyengat. Begitu juga nafasnya sudah mulai sesak karena debu Merapi sudah memadati udara gunung.  Sepintas dia melihat tempat Maya menyimpan anggrek liarnya sudah bererakan, bahkan longsor dihantam gempa berkali kali.

“Maya kau di mana ?”

“Anto, aku dalam lubang ini ?’

“Maya!, kau tidak apa-apa ?”

“Entahlah, tapi kakiku sakit, aku tidak bisa naik ke  atas “ Wajah Maya sudah pucat pasi, lantaran dihinggapi rasa takut yang menderanya. Tanpa banyak waktu Hananto melepas bajunya dan dipilin menjadi tali untuk mengangkat tubuh Maya.

“Peganglah kuat kuat dengan kedua tanganmu, dan usahakan kedua kakimu bertumpu pada dinding lubang ini. Bersiaplah aku akan menarikmu “

“Ya “, dengan meringis kesakitan tubuh Maya perlahan lahan bergerak ke atas sambil terus menumpukan kedua kakinya, meski sebuah kakinya telah terkilir. Kini Mayapun sudah berada dalam pelukan Hananto.

Kini tubuh yang langsing dan semampai itu berada dalam dekapan Hananto untuk melangkah meninggalkan ladang yang porak poranda dihantam gempa dan debu kemarahan Gunung Merapi, sekuat tenaga mereka kerahkan untuk menyusuri jalan setapak dan jalan desa hingga sisa tenaga yang terakhir mampu mereka kerahkan tepat tidak jauh dari truk team SAR yang masih sabar menunggu warga yang tertinggal mengungsi.
***
RM Pranoto terus menerus menangis di samping tubuh istrinya yang lemah terbaring di pengungsian. Lantaran ketidakhadiran Maya di samping mereka. Sementara itu terdapat juga beberapa warga yang menangis histeris meratapi keluarganya yang menjadi korban tangan tangan raksasa awan Gunung Merapi. Situasi saat iru sungguh menjadikan episode kehidupan sebagai episode tentang betapa lemahnya makhluk yang bernama manusia.

Sititik harapan kini mulai bersemayam di hati RM Pranoto dan Hartinah setelah muncul truk pengungsi terakhir dihadapan mereka. Apalagi setelah melihat gadis berbaju jingga dengan rambut di kepang dua sebatas pinggangnya serta tahi lalat di dagunya. EM Pranoto segera memapah istrinya untuk menemui putri sulungnya dengan sejuta bunga bermekaran di sudut hatinya. Sebuah peluk cium dari ketiga insan itupun menjadi pemandangan semua pengungsi. Lain halnua dengan Hananto yang hanya berdiri terpaku dengan sejuta peraaan yang tidak percaya menghadapi kenyataan ini.  “Engkau tadi di mana, anaku “ seru RM Pranoto dengan rintihan tangis bahagia.

Mayapun segera menarik tangan Hananto untuk berdiri lebih dekat lagi dengan mereka bertiga.Maya segera menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya.  “Trimakasih kami tak terhingga Nak Anto, maafkan kekasaran bapak dan ibu selama ini sama kamu “. Tanpa segan dan malu kini RM Pranoto memeluk tubuh pemuda ganteng itu dengan penuh ketulusan. Hanantopun menyambutnya dengan menepiskan segala macam dendam.

Di Balik Gemerlap Bintang



Lalu lalang kunang malam, bagaikan lampu perahu nelayan di tengah laut buta, sesekali menyambangi halaman rumahnya, yang senyap diterkam malam binal. Seorang laki laki paro baya merebahkan punggungnya di kursi bambu di bawah pohon jambu, yang kurus kering tumbuh di halaman rumahnya. Wajahnya dihadapkan pada jalan tanah kampung yang mengering dan membisu, setelah seharian berjuang melawan terik matahari. Sengaja dia berkerumun bintang dan berselimut kain hitam malam karena bintanglah yang paling tahu tentang hatinya yang bertepi kegalauan dan bintang pula yang paling dia anggap ramah, lantaran tak satu kalipun bintang bintang itu pernah mengotori hatinya. “Bintang bintang itu! biarlah malam ini menjadi miliku”, demikian bisik hatinya.
Apa hanya milik setangkai anyelir saja yang bisa berceloteh tentang bintang, baik bintang kejora atau bintang berparade gubug penceng yang berbaur sinarnya memenuhi sisi sisi langit. Atau hanya bingkai hati seorang laki laki yang sedang berselingkuh dengan bintang yang kini tidak mampu menautkan hati pada apa saja, baik dikala merontanya senja atau dikala angkuhnya sang bulan purnama yang menjajakan sinarnya. Tapi itulah sebuah guratan eksotis hati, bila ingin terbang bersama sejuta sayap malaikat untuk mengarungi malam dari sisi satu ke sisi lain.
Bukankah sesekali bintang menjenguk laki laki itu yang layaknya Sang Pujangga,  lantas bertegur sapa sehingga telah usai sudah syair-syair yang akan digenapkan pada puisi tentang hidupnya,  yang berfatamorgana hanya pada syair yang nakal dan nisbi. Mengapa pula dia hanya mampu menautkan benang merah pada kenisbian, padahal semua dunia dan isinya mampu dilukiskan dengan  kata kata indah, seindah liarnya butir air di Niagara atau se bebas butir debu di Sahara.
Namun untuk menguntai sebuah malam dengan rajutan bintang, diapun harus membusungkan ruang dadanya kembali, agar berisi udara kejujuran ketimbang hanya diisi udara kemunafikan. Sang Pujangga itu yang hanya ditemani pohon jambu di belakang pagar bambu rumah mungilnya, kini mulai mengerlingkan matanya pada bintang, pada  realita kehidupan, pada debu debu jalanan depan rumahnya yang mulai menyesakan nafasnya.
Pergilah tidur, wahai manusia.  Hari sudah larut, sementara sang kehidupan menungumu esok pagi “ seru sebuah noktah hati entah di sisi sebelah mana. Sang Pujanggapun mulai menampakan sorot matanya yang liar. Di jelajahi semua sudut hatinya, barangkali masih ada rumpun bambu yang rindang agar hatinya tidak gerah lagi. Agar dia bia menyurutkan lebih dalam lagi dari sebuah realita. Kala dia harus jatuh bangun menggegam sebuah realita itu sendiri, kala  dia mencoba untuk menepiskan kemisteriusan benaknya.
Hai, kau…bukankah aku lagi larut dalam canda sang bintang, yang menggumuli aku sepanjang malam ini”.
Suara itupun surut ke belakang menghilang, menyelinap ke tengah kebon singkong yang ada di samping rumah tua itu. Kini dia kembali sunyi dalam samudra buaian bintang bintang malam yang tersenyum genit. Anganya terus berseloroh hingga terdengarlah batuk batuk panjang istrinya dari dalam rumah tua itu. Seketika itu juga cumbu rayu lelaki itu dengan sang bintangpun menjadi surut dan istrinya dengan dibalut baju hangatpun kini telah berada di sisinya.
“Kalau kau semalaman disini dengan lamunanmu tak akan menyelesaikan masalah kita,Pak “
“Justru dengan ditemani sang bintang malam inilah aku bisa menemukan inspirasi dan ide ide untuk mendapatkan jalan keluar untuk hidup kita, yang semakin dipingit kesengsaraan ?’
“Ah kau berlagak seperti  Pujangga saja”    
“Apa itu Pujangga ?”
“Sama saja degan sastrawan atau penyair “
“Aku selalu jauh dari makna yang tersirat dalam untaian kata, hanya mampu kusimpan semua warna warni hidup dalam sudut hatiku”
“Heee..katanya kau bisa mendapat ide dari sang bintang yang bertebaran di langit, suamiku?”
“Ya pasti saja, setiap manusia yang sedang bimbang dengan kehidupan. Biasanya sering menyendiri di tengah malam, untuk menyaksikan parade bintag dan  untuk mendapatkan ide bagaimana besok menyelesaikan masalah “
“Lantas sudah kau sunting sebuah  gagasan dari bintang bintang itu ?”. Sang istri tang menjadi teman sang pujangga itu melontarkan kedua biji matanya kepada laki laki yang lusuh itu.
“Kita sudah tak punya apa apa lagi, hanya padi sisa panen kemarin. Sementara hujan belum membasahi sawah kita, sudah tiga bulan ini tanam kita terlambat. Aku belum berani menanam psdi. Padahal hanya padi yang menguning, adalah harapan kita satu-satunya”
“Tapi sabar saja, Pak. Biasanya bila habis musim kemarau yang menyengat dan panjang.  Akan datang musih yang basah . Tunggu beberapa minggu lagi”
“Besok aku tak datang ke sekolahnya anak-anak, untuk  minta tempo. Bulan bulan ini aku belum bisa melunasi SPP mereka”
“Padahal sebentar lagi anak anak tes semester, Pak. Aku harap entah dua atua tiga bulan SPP mereka dibayar dulu”
“Habis gimana lagi ?, apa anak anak tidak bisa sekolah kalau orang tuanya nggak punya duit. Apa hanya orang kota yang kaya saja, yang bisa memintarkan anak anaknya. Aku harap di negara kita lahir seoang pemimpin yang membebaskan SPP sekolah. Termasuk buku buku yang harganya selangit. Aku heran katanya kita sudah merdeka, tapi nyatanya untuk menyekolahkan anaknya saja sudah kelimpungan”
 “Sudahlah Pak !, kita hanya orang kecil, berteriak sekeras mungkin juga tidak ada yang mau mendengarkan. Bahkan bintang bintangmu di langit hanya diam membisu. Kita bersyukur masih punya beberapa kambing, meski sudah di pesan tetangga kita untuk korban. Kita jual saja untuk SPP anak anak kita dan sisanya untuk menyambung hidup”
 “Tadinya aku berpikir seperti itu, Bu !. Tapi aku nggak enak sama Pak Diran yang sudah memesan kambing kita. Baiklah Bu !, sehabis aku ke sekolah anak anak besok,  aku langsung ke pasar kambing “
 Kedua insan yang hidup sengsara kinipun merasa bahagia, lantaran esok masih ada harapan untuk menyambung nafasnya kembali. Sang bintang kinipun mulai meredup lantaran sang fajar mulai menjemput untuk kembali ke kaki langit. Hanya suara dengkuran panjang sang pujangga yang menghiasi wajah sang fajar. Tak lama sang surya kinipun menyodorkan kehidupan lagi untuk ditapaki manusia manusia yang masih memiliki harapan.
***
Supardi berkalang kegalaun hati kala menunggu kepala sekolah Tono dan Tini. Mukjizat apa yang dapat menolong dirinya untuk mendapatkan kemurahan dari kepala sekolah ke dua anaknya itu. Pak Dirman sang kepala sekolah dengan berhias senyum di wajahnya kini duduk di depan Supardi yang tidak mampu berkata sepatah katapun.
“Oh, jadi ini Pak Supardi bapaknya Tono dan Tini ?”
 “Betul, Pak, kedatangan kami ke sini hanya untuk meminta keringanan SPP Tono dan Tini. Rencana kami beberapa hari nanti akan menjual ke tiga kambing mereka untuk SPP, jadi saya minta tempo, Pak ?”. Mendengar keluhan Supardi, Pak Dirman melepas tawa panjang yang memenuhi semua sudut ruang guru.
 “Bapak tidak usah menjual kambing mereka. Jadi perlu saya sampaikan kepada Bapak, tanpa memberitahu kedua putra Bapak sebelumnya. Bahwa kedua putra Bapak memiliki prestasi yang bagus. Keduanya memiliki nilai yang tertinggi di kelasnya. Bahkan sikap mereka berdua sangat hormat kepada semua guru, sehingga semua gurupun sayang merela berdua “
“Terus ini bagaimana, Pak ? ”. Sunardi tidak percaya dengan keterangan Pak Dirman itu.
 “Mereka mendapat bea siswa dari negara, sehingga untuk tahun ini keduanya bebas SPP. Makanya kambing mereka jangan Bapak jual dahulu ?’. Suara Pak Dirman membahana ke setiap sudut ruangan, sehingga mengundang perhatian semua guru.
“Oh, terimakasih sekali, Pak!. Aku tidak percaya, mereka berdua hanya anak singkong, yang mampu bersekolah hanya dari hasil panen padi yang tidak seberapa besarnya”
“Apakah anak singkong tidak boleh berpretasi ?. Semua negarawan di tanah air kita juga dulunya anak singkong,  mengapa kedua putra bapak tidak boleh berprestasi !”
“Ah, bapak terlalu berlebihan”
“Bukan hanya itu saja, Pak!. Nanti pas upacara Hari Sumpah Pemuda mereka berdua akan diberi tabungan prestasi dari “Yayasan Prestasi Anak  Jakarta “dan cukup bagi mereka untuk biaya sekolah selama satu tahun “
Hati Sunardi sudah tidak mampu lagi mendengar kabar menggembirakan dari Pak Dirman. Ingin rasanya dia segera sampai di rumah, agar wajah istrinya berseri dan rona merah di pipinya menjadi tergambar, hingga mampu membuat hati sang pujangga anak singkong itu kelimpungan.
***
Rumah Tono dan Tini masih kelihatan lengang, sementara matahari hampir mencapai atap langit. Daun daun singkong di samping rumahnya sudah mulai kelihatan menunduk dipagut teriknya mentari. Erniyati masih kelihatan sibuk memunguti bunga papaya untuk lauk makan siang mereka. Melihat suaminya datang dengan mengusung senyum yang lebar di wajahnya , Ernipun menjadi penasaran. Bahkan kini diapun tidak percaya dengan kabar gembira yang disampaikan Sunardi. Hingga kelihatan wajah Sunardi yang bersungut sungut untuk meyakinkan istrinya. Erniyati kini hanya mampu duduk di serambi rumah mereka yang berlantai semen. Dia mendenguskan nafas panjang, tanda bahagia dan bersyukur telah mendapat pertolongan dari Yang Kuasa.
 “Pak, aku tadi mendengarkan laporan BMG di tv, mulai minggu minggu  ini kita memasuki musim hujan. Kita sebaiknya bersiap menanam padi. Biarlah biaya sekolah anak anak diambilkan dari uang prestasi mereka. Hasil panen padi biarlah untuk biaya Tono ke perguruan tinggi”
Sunardi hanya menganggukan kepala. Kini beranda rumah mereka menjadi saksi bahwa kehidupan milik petani kecilpun akan banyak berarti bila mereka memang merasa hidup, apapun keadaannya. Hanya Tuhan Yang Kuasa saja yang tahu kehidupan semua makhluknya di muka bumi ini.

D e b u



Jalan peninggalan Gubernur Jenderal  Herman Willem  Daendels yang melintang di pantai Utara Pulau Jawa dipenuhi debu debu liar dan tak berdaya. Jalan yang peeuh dengan kanvas lukisan sejarah dari jaman ke jaman itu ikut diam membisu meski sinar matahari  siang itu menerkamnya   tanpa ampun. Sama seperti beberapa puluh tahun silam ketika Anjing NICA  menggerus jalan itu untuk terus melaju, menghentakan roda roda besi untuk menghancurkan rumah rumah  beratap rumbai ilalang milik inlander inlander bermata cekung, bertubuh kurus kering dan bersorot mata menantang. Apalagi kedatangan gemuruh roda besi dan pesawat tempur cocor merah justru terjadi setelah Soekarno Hatta meneriakan sebuah kemerdekaan anak bangsa yang hidup dengan separo nafas.

Jalan yang terlihat coklat kehitaman itu terus saja menampakan raut wajahnya yang kelam, meski anjing NICA telah menyelinap menembus Samudra Hindia untuk pulang ke negeri Bunga Tulip itu. Jalan yang melintang di setiap kota di pantai utara itu, sepertinya masih mengaduh kesakitan, entah karena tangan tangan kotor saudagar VOC atau karena gigi taring tajam anak negeri yang menghisap darah darah dari bilik jantung orang orang kecil di negeri ini.Atau karena jalan jalan itu sudah tidak mendengar lagi lolongan Water Mantel 12,7 atau senapan otomatis Thomson milik pejuang yang memberangus anjing penjajah, atau memberangus kebodohan serta dinginya sorot mata mata anak negeri terhadap kepincangan, ketidakpedulian, ketidakadilan dan tabiat kejahatan kerah putih.

Debu debu sepanjang Jalan Daendles di saat ini berceria, renyah tersenyum dan berterbangan ringan dan liar berhamburan dihempas angin kemarau, ditelikung panasnya sinar mentari, tapi tetap tunduk pada kodrat gravitasi yang mencengkeramnya. Meskipun roda roda garang dari beribu tronton, bis dan kendaraan berat lainnya menghempaskanya ke tiap arah. Sebagian lagi hinggap di celana dan baju waita wanita super elit yang hilir mudik menghamburkan uang di mall mall yang menjamur. Sehingga kulit mereka yang sawo matang terlihat bertambah kusam.

Berbeda dengan jaman Herman Willem  Daendels kala masih bercokol di negeri ini. Noni Noni Belanda dengan andong yang ditarik sepasang kuda hilir mudik untuk menghamburkan gulden di rumah rumah makan eksotis dan berarsitektur kincir angin sekedar mengenyangkan perut mereka dengan santapan Huzaren Sla,  Holland Kroket Bitter Ballen atau Stamppot Met Wosrt. Beberapa gelas Netherland Beverage telah mereka reguk dengan tangan tangan usil mereka mengibaskan kipas artistic berbalut kain sutera.Sama sekali mereka tidak memperdulikan perempuan inlander yang menawarkan panganan dari ketan, ubi, singkong rebus, getuk dan panganan inlander lainnya. Meski roda delman yang ditumpanginya telah melindas debu debu jalan milik kaum inlander yang tertunduk lesu, lunglai lengan lenganya dan kosong sorot matanya.
***
2
Tapi itulah jaman, haru biru, prahara yang dilahirkan selalu saja  menyudutkan debu  jalan  Daendels untuk menjadi saksi, entah debu yang merona merah darah lantaran percikan darah dari korban jaman yang saling diberingasi manusia manusia yang menuntut kebenaran, mengencangkan egonya serta mengalahkan lainnya. Termasuk juga tetesan darah pejuang yang tersungkur ditebas peluru anjing NICA. Mereka terus menerbangkan debu Perang Diponegoro, Perang Kemerdekaan I dan II. Bahkan beruang merah yang berniat mencengkeram lengan lengan rapuh dari anak bangsa yang baru saja bangun dari tidurnya setelah 350 tahun bermimpi, ikut pula memerahkan debu debu jaman di negeri tempat mandi bidadari.

Namun kawanan debu kini lebih merapatkan satu sama lain, bukan lantaran “global warming” atau “solar flare “ bahkan bukan pula karena “Supermoon”. Meski cuaca ekstrim telah menambah mereka untuk lebih ringan menempel ke setiap titik tujuan dan menyampaikan pengaduan tentang nasib mereka dan sebuah keluh kesah  tentang birama kehidupan ini. Kawanan debu menjadi bingung tujuh keliling, lantaran mereka terhempas oleh manusia manusia yang berkulit sama, yaitu sawo matang, berhidung pesek serta berbicara denga bahasa sama.

Debu debu jalan Daendels itu sempat memasang telinga mereka dan menyelipkan tubuhnya pada roda becak, kaca gerobag mi ayam, dan tempat terselip lainya untuk mengetahui teriakan nyaring manusia manusia yang terhipnotis untuk berseteru dengan  lainya yang  terus saja menghamburkan enerji dan amarah kepada kawanan manusia lain yang serupa dan diikrarkan menjadi musuh mereka. Musuh yang saling tidak mengetahui satu sama lainnya, mengapa mereka lupa akan makna persahabatan.

“Bakar rumah mereka, bakar apa saja milik mereka “ teriak salah satu manusia yang bermata garang, sambil mengepalkan tinjunya serta berdiri di posisi paling depan. Sementara manusia manusia lainya yang berdiri di belakangnya terus saja melempar apa yang dimiliki ke arah manusia manusia lainya yang bergerombol di sebrang jalan.

“Ayo maju terus..ayo sergap mereka dan usir mereka” sebuah teriakan lantang terdengar.

“Majulah kau manusia laknat, kami tidak takut !” jawab salah satu manusia lain di sebrang jalan, yang bersembunyi di balik barikade dari batang pohon Akasia yang dirobohkan, bangkai mobil yang terbakar. Sementara di atas barikade beterbangan bom molotov dari dua arah. Semua batu dari bebagai ukuran telah mereka usung untuk meliampiaskan kebencian dan kekecewaan pada manusia lainnya yang dianggap jahanam dan durjana, entah dari sisi yang mana, mereka sendiri tidak tahu. Hitam kelam warna
3
wajah mereka semua hampir sama dengan debu debu jalan  Daendels  yang tak pernah diam dan selalu larut dalam prahara yang ditebar manusia, dari jaman Majapahit hingga kini.

Debu debu jalan Daendels  serentak bersama melemparkan pandang ke arah  beberapa manusia yang berseragam sama, yaitu bekemeja coklat muda dan bercelana coklat tua dengan mengibarkan bendera putih, di belakang mereka berjalan perlahan mobil yang memuntahkan suara sirene memekakan telinga. Terdengar suara lantang dari megaphone yang dijinjing manusia yang berdiri di tengah.

“Hentikan, hentikan semuanya saudaraku “

Satu dua bom molotov berjatuhan tidak jauh dari kerumunan orang berbaju coklat itu.
Namun beberapa saat kemudian suasana mencekam menjadi meluruh.

“Kami minta saudara jangan menyerang kami, kami hanya mengajak saudara semua untuk berunding. Majulah ke depanku siapa yang menjadi pemimpin kalian”

Untuk beberapa saat hujan batu dan benda lainya berhenti, hanya teriakan dan pekikan memecah atmosfir siang hari itu. Debu debupun kini mengendap di sembarang tempat dengan tetap memasang telinga mereka. Debu debu jalanan  kini mulai berdiri tegak lantaran telah kembali lagi nyali mereka,  yang sekian lama terpagut prahara yang ditebar dua kelompok manusia.

“Lihat, peperangan ini telah selesai” pekik salah satu debu.

“Belum tentu, mereka tak segampang itu “ jawab debu lainnya.

“He,..darimana kamu tahu ?”

“Aku lihat wajah mereka masih merah merona”  jawab debu yang tadi.

“Ah, sudahlah apa arti debu seperki kita yang terhempas kesana kemari tak punya daya” tutur debu yang berada di tumpukan paling bawah.

Tak lama kemudian semua debu debu jalanan yang mengusung seribu kebimbangan itu menjadi terbungkam seribu kata, tatkala sekelompok manusia dari arah sebelah kiri jalan  mendatangi manusia manusia berseragam coklat, seraya mengibaskan bendera putih. Namun debu debu itupun menjadi tercengang  tatkala pula menyaksikan sekumpulan kepala manusia muncul dari balik barikade yang digelar di sebelah kanan jalan. Mereka kini malah berdiri dengan sorot mata yang masih memendam rasa amarah dan curiga kepada manusia manusia yang muncul dari sebrang jalan mereka. Suasana kembali mencekam dan masih menghantui jalan kota yang meradang bara permusuhan,  terutama bagi  debu debu yang memusari jalan itu.

Detik dan detik terus berlari menembus atmosfer kota yang panas itu, sepanas dua kelompok manusia yang kini berhadapan untuk saling mengumpat, memaki atau bahkan saling menyalahkan tanpa adanya hasrat untuk bersama mencari titik temu, meski matahari telah mulai condong ke barat. Biru langit mulai sedikit gelap, lampu lampu kota telah mulai menyala di sepanjang jalan yang lengang bagai jalan kota mati. Namun kedua kelompok itu masih terus menggulirkan nafsu amarah, meski semua benda keras yang tergenggam di kedua tangan mereka telah mereka serahkan kepada sang juru damai antara mereka. Namun entahlah, hanya matahari fajar esok hari saja yang akan menjadi saksi esok pagi, apa mereka masih menyabung nyawa dengan saudaranya sendiri ataukah mereka akan memulai  kehidpan ini dengan damai, sedamai debu debu jalanan yang sudah tak bertenaga lagi, lunglai dan nestapa di sepanjang jalan mati itu***