Rabu, 21 November 2012

Di Balik Gemerlap Bintang



Lalu lalang kunang malam, bagaikan lampu perahu nelayan di tengah laut buta, sesekali menyambangi halaman rumahnya, yang senyap diterkam malam binal. Seorang laki laki paro baya merebahkan punggungnya di kursi bambu di bawah pohon jambu, yang kurus kering tumbuh di halaman rumahnya. Wajahnya dihadapkan pada jalan tanah kampung yang mengering dan membisu, setelah seharian berjuang melawan terik matahari. Sengaja dia berkerumun bintang dan berselimut kain hitam malam karena bintanglah yang paling tahu tentang hatinya yang bertepi kegalauan dan bintang pula yang paling dia anggap ramah, lantaran tak satu kalipun bintang bintang itu pernah mengotori hatinya. “Bintang bintang itu! biarlah malam ini menjadi miliku”, demikian bisik hatinya.
Apa hanya milik setangkai anyelir saja yang bisa berceloteh tentang bintang, baik bintang kejora atau bintang berparade gubug penceng yang berbaur sinarnya memenuhi sisi sisi langit. Atau hanya bingkai hati seorang laki laki yang sedang berselingkuh dengan bintang yang kini tidak mampu menautkan hati pada apa saja, baik dikala merontanya senja atau dikala angkuhnya sang bulan purnama yang menjajakan sinarnya. Tapi itulah sebuah guratan eksotis hati, bila ingin terbang bersama sejuta sayap malaikat untuk mengarungi malam dari sisi satu ke sisi lain.
Bukankah sesekali bintang menjenguk laki laki itu yang layaknya Sang Pujangga,  lantas bertegur sapa sehingga telah usai sudah syair-syair yang akan digenapkan pada puisi tentang hidupnya,  yang berfatamorgana hanya pada syair yang nakal dan nisbi. Mengapa pula dia hanya mampu menautkan benang merah pada kenisbian, padahal semua dunia dan isinya mampu dilukiskan dengan  kata kata indah, seindah liarnya butir air di Niagara atau se bebas butir debu di Sahara.
Namun untuk menguntai sebuah malam dengan rajutan bintang, diapun harus membusungkan ruang dadanya kembali, agar berisi udara kejujuran ketimbang hanya diisi udara kemunafikan. Sang Pujangga itu yang hanya ditemani pohon jambu di belakang pagar bambu rumah mungilnya, kini mulai mengerlingkan matanya pada bintang, pada  realita kehidupan, pada debu debu jalanan depan rumahnya yang mulai menyesakan nafasnya.
Pergilah tidur, wahai manusia.  Hari sudah larut, sementara sang kehidupan menungumu esok pagi “ seru sebuah noktah hati entah di sisi sebelah mana. Sang Pujanggapun mulai menampakan sorot matanya yang liar. Di jelajahi semua sudut hatinya, barangkali masih ada rumpun bambu yang rindang agar hatinya tidak gerah lagi. Agar dia bia menyurutkan lebih dalam lagi dari sebuah realita. Kala dia harus jatuh bangun menggegam sebuah realita itu sendiri, kala  dia mencoba untuk menepiskan kemisteriusan benaknya.
Hai, kau…bukankah aku lagi larut dalam canda sang bintang, yang menggumuli aku sepanjang malam ini”.
Suara itupun surut ke belakang menghilang, menyelinap ke tengah kebon singkong yang ada di samping rumah tua itu. Kini dia kembali sunyi dalam samudra buaian bintang bintang malam yang tersenyum genit. Anganya terus berseloroh hingga terdengarlah batuk batuk panjang istrinya dari dalam rumah tua itu. Seketika itu juga cumbu rayu lelaki itu dengan sang bintangpun menjadi surut dan istrinya dengan dibalut baju hangatpun kini telah berada di sisinya.
“Kalau kau semalaman disini dengan lamunanmu tak akan menyelesaikan masalah kita,Pak “
“Justru dengan ditemani sang bintang malam inilah aku bisa menemukan inspirasi dan ide ide untuk mendapatkan jalan keluar untuk hidup kita, yang semakin dipingit kesengsaraan ?’
“Ah kau berlagak seperti  Pujangga saja”    
“Apa itu Pujangga ?”
“Sama saja degan sastrawan atau penyair “
“Aku selalu jauh dari makna yang tersirat dalam untaian kata, hanya mampu kusimpan semua warna warni hidup dalam sudut hatiku”
“Heee..katanya kau bisa mendapat ide dari sang bintang yang bertebaran di langit, suamiku?”
“Ya pasti saja, setiap manusia yang sedang bimbang dengan kehidupan. Biasanya sering menyendiri di tengah malam, untuk menyaksikan parade bintag dan  untuk mendapatkan ide bagaimana besok menyelesaikan masalah “
“Lantas sudah kau sunting sebuah  gagasan dari bintang bintang itu ?”. Sang istri tang menjadi teman sang pujangga itu melontarkan kedua biji matanya kepada laki laki yang lusuh itu.
“Kita sudah tak punya apa apa lagi, hanya padi sisa panen kemarin. Sementara hujan belum membasahi sawah kita, sudah tiga bulan ini tanam kita terlambat. Aku belum berani menanam psdi. Padahal hanya padi yang menguning, adalah harapan kita satu-satunya”
“Tapi sabar saja, Pak. Biasanya bila habis musim kemarau yang menyengat dan panjang.  Akan datang musih yang basah . Tunggu beberapa minggu lagi”
“Besok aku tak datang ke sekolahnya anak-anak, untuk  minta tempo. Bulan bulan ini aku belum bisa melunasi SPP mereka”
“Padahal sebentar lagi anak anak tes semester, Pak. Aku harap entah dua atua tiga bulan SPP mereka dibayar dulu”
“Habis gimana lagi ?, apa anak anak tidak bisa sekolah kalau orang tuanya nggak punya duit. Apa hanya orang kota yang kaya saja, yang bisa memintarkan anak anaknya. Aku harap di negara kita lahir seoang pemimpin yang membebaskan SPP sekolah. Termasuk buku buku yang harganya selangit. Aku heran katanya kita sudah merdeka, tapi nyatanya untuk menyekolahkan anaknya saja sudah kelimpungan”
 “Sudahlah Pak !, kita hanya orang kecil, berteriak sekeras mungkin juga tidak ada yang mau mendengarkan. Bahkan bintang bintangmu di langit hanya diam membisu. Kita bersyukur masih punya beberapa kambing, meski sudah di pesan tetangga kita untuk korban. Kita jual saja untuk SPP anak anak kita dan sisanya untuk menyambung hidup”
 “Tadinya aku berpikir seperti itu, Bu !. Tapi aku nggak enak sama Pak Diran yang sudah memesan kambing kita. Baiklah Bu !, sehabis aku ke sekolah anak anak besok,  aku langsung ke pasar kambing “
 Kedua insan yang hidup sengsara kinipun merasa bahagia, lantaran esok masih ada harapan untuk menyambung nafasnya kembali. Sang bintang kinipun mulai meredup lantaran sang fajar mulai menjemput untuk kembali ke kaki langit. Hanya suara dengkuran panjang sang pujangga yang menghiasi wajah sang fajar. Tak lama sang surya kinipun menyodorkan kehidupan lagi untuk ditapaki manusia manusia yang masih memiliki harapan.
***
Supardi berkalang kegalaun hati kala menunggu kepala sekolah Tono dan Tini. Mukjizat apa yang dapat menolong dirinya untuk mendapatkan kemurahan dari kepala sekolah ke dua anaknya itu. Pak Dirman sang kepala sekolah dengan berhias senyum di wajahnya kini duduk di depan Supardi yang tidak mampu berkata sepatah katapun.
“Oh, jadi ini Pak Supardi bapaknya Tono dan Tini ?”
 “Betul, Pak, kedatangan kami ke sini hanya untuk meminta keringanan SPP Tono dan Tini. Rencana kami beberapa hari nanti akan menjual ke tiga kambing mereka untuk SPP, jadi saya minta tempo, Pak ?”. Mendengar keluhan Supardi, Pak Dirman melepas tawa panjang yang memenuhi semua sudut ruang guru.
 “Bapak tidak usah menjual kambing mereka. Jadi perlu saya sampaikan kepada Bapak, tanpa memberitahu kedua putra Bapak sebelumnya. Bahwa kedua putra Bapak memiliki prestasi yang bagus. Keduanya memiliki nilai yang tertinggi di kelasnya. Bahkan sikap mereka berdua sangat hormat kepada semua guru, sehingga semua gurupun sayang merela berdua “
“Terus ini bagaimana, Pak ? ”. Sunardi tidak percaya dengan keterangan Pak Dirman itu.
 “Mereka mendapat bea siswa dari negara, sehingga untuk tahun ini keduanya bebas SPP. Makanya kambing mereka jangan Bapak jual dahulu ?’. Suara Pak Dirman membahana ke setiap sudut ruangan, sehingga mengundang perhatian semua guru.
“Oh, terimakasih sekali, Pak!. Aku tidak percaya, mereka berdua hanya anak singkong, yang mampu bersekolah hanya dari hasil panen padi yang tidak seberapa besarnya”
“Apakah anak singkong tidak boleh berpretasi ?. Semua negarawan di tanah air kita juga dulunya anak singkong,  mengapa kedua putra bapak tidak boleh berprestasi !”
“Ah, bapak terlalu berlebihan”
“Bukan hanya itu saja, Pak!. Nanti pas upacara Hari Sumpah Pemuda mereka berdua akan diberi tabungan prestasi dari “Yayasan Prestasi Anak  Jakarta “dan cukup bagi mereka untuk biaya sekolah selama satu tahun “
Hati Sunardi sudah tidak mampu lagi mendengar kabar menggembirakan dari Pak Dirman. Ingin rasanya dia segera sampai di rumah, agar wajah istrinya berseri dan rona merah di pipinya menjadi tergambar, hingga mampu membuat hati sang pujangga anak singkong itu kelimpungan.
***
Rumah Tono dan Tini masih kelihatan lengang, sementara matahari hampir mencapai atap langit. Daun daun singkong di samping rumahnya sudah mulai kelihatan menunduk dipagut teriknya mentari. Erniyati masih kelihatan sibuk memunguti bunga papaya untuk lauk makan siang mereka. Melihat suaminya datang dengan mengusung senyum yang lebar di wajahnya , Ernipun menjadi penasaran. Bahkan kini diapun tidak percaya dengan kabar gembira yang disampaikan Sunardi. Hingga kelihatan wajah Sunardi yang bersungut sungut untuk meyakinkan istrinya. Erniyati kini hanya mampu duduk di serambi rumah mereka yang berlantai semen. Dia mendenguskan nafas panjang, tanda bahagia dan bersyukur telah mendapat pertolongan dari Yang Kuasa.
 “Pak, aku tadi mendengarkan laporan BMG di tv, mulai minggu minggu  ini kita memasuki musim hujan. Kita sebaiknya bersiap menanam padi. Biarlah biaya sekolah anak anak diambilkan dari uang prestasi mereka. Hasil panen padi biarlah untuk biaya Tono ke perguruan tinggi”
Sunardi hanya menganggukan kepala. Kini beranda rumah mereka menjadi saksi bahwa kehidupan milik petani kecilpun akan banyak berarti bila mereka memang merasa hidup, apapun keadaannya. Hanya Tuhan Yang Kuasa saja yang tahu kehidupan semua makhluknya di muka bumi ini.

D e b u



Jalan peninggalan Gubernur Jenderal  Herman Willem  Daendels yang melintang di pantai Utara Pulau Jawa dipenuhi debu debu liar dan tak berdaya. Jalan yang peeuh dengan kanvas lukisan sejarah dari jaman ke jaman itu ikut diam membisu meski sinar matahari  siang itu menerkamnya   tanpa ampun. Sama seperti beberapa puluh tahun silam ketika Anjing NICA  menggerus jalan itu untuk terus melaju, menghentakan roda roda besi untuk menghancurkan rumah rumah  beratap rumbai ilalang milik inlander inlander bermata cekung, bertubuh kurus kering dan bersorot mata menantang. Apalagi kedatangan gemuruh roda besi dan pesawat tempur cocor merah justru terjadi setelah Soekarno Hatta meneriakan sebuah kemerdekaan anak bangsa yang hidup dengan separo nafas.

Jalan yang terlihat coklat kehitaman itu terus saja menampakan raut wajahnya yang kelam, meski anjing NICA telah menyelinap menembus Samudra Hindia untuk pulang ke negeri Bunga Tulip itu. Jalan yang melintang di setiap kota di pantai utara itu, sepertinya masih mengaduh kesakitan, entah karena tangan tangan kotor saudagar VOC atau karena gigi taring tajam anak negeri yang menghisap darah darah dari bilik jantung orang orang kecil di negeri ini.Atau karena jalan jalan itu sudah tidak mendengar lagi lolongan Water Mantel 12,7 atau senapan otomatis Thomson milik pejuang yang memberangus anjing penjajah, atau memberangus kebodohan serta dinginya sorot mata mata anak negeri terhadap kepincangan, ketidakpedulian, ketidakadilan dan tabiat kejahatan kerah putih.

Debu debu sepanjang Jalan Daendles di saat ini berceria, renyah tersenyum dan berterbangan ringan dan liar berhamburan dihempas angin kemarau, ditelikung panasnya sinar mentari, tapi tetap tunduk pada kodrat gravitasi yang mencengkeramnya. Meskipun roda roda garang dari beribu tronton, bis dan kendaraan berat lainnya menghempaskanya ke tiap arah. Sebagian lagi hinggap di celana dan baju waita wanita super elit yang hilir mudik menghamburkan uang di mall mall yang menjamur. Sehingga kulit mereka yang sawo matang terlihat bertambah kusam.

Berbeda dengan jaman Herman Willem  Daendels kala masih bercokol di negeri ini. Noni Noni Belanda dengan andong yang ditarik sepasang kuda hilir mudik untuk menghamburkan gulden di rumah rumah makan eksotis dan berarsitektur kincir angin sekedar mengenyangkan perut mereka dengan santapan Huzaren Sla,  Holland Kroket Bitter Ballen atau Stamppot Met Wosrt. Beberapa gelas Netherland Beverage telah mereka reguk dengan tangan tangan usil mereka mengibaskan kipas artistic berbalut kain sutera.Sama sekali mereka tidak memperdulikan perempuan inlander yang menawarkan panganan dari ketan, ubi, singkong rebus, getuk dan panganan inlander lainnya. Meski roda delman yang ditumpanginya telah melindas debu debu jalan milik kaum inlander yang tertunduk lesu, lunglai lengan lenganya dan kosong sorot matanya.
***
2
Tapi itulah jaman, haru biru, prahara yang dilahirkan selalu saja  menyudutkan debu  jalan  Daendels untuk menjadi saksi, entah debu yang merona merah darah lantaran percikan darah dari korban jaman yang saling diberingasi manusia manusia yang menuntut kebenaran, mengencangkan egonya serta mengalahkan lainnya. Termasuk juga tetesan darah pejuang yang tersungkur ditebas peluru anjing NICA. Mereka terus menerbangkan debu Perang Diponegoro, Perang Kemerdekaan I dan II. Bahkan beruang merah yang berniat mencengkeram lengan lengan rapuh dari anak bangsa yang baru saja bangun dari tidurnya setelah 350 tahun bermimpi, ikut pula memerahkan debu debu jaman di negeri tempat mandi bidadari.

Namun kawanan debu kini lebih merapatkan satu sama lain, bukan lantaran “global warming” atau “solar flare “ bahkan bukan pula karena “Supermoon”. Meski cuaca ekstrim telah menambah mereka untuk lebih ringan menempel ke setiap titik tujuan dan menyampaikan pengaduan tentang nasib mereka dan sebuah keluh kesah  tentang birama kehidupan ini. Kawanan debu menjadi bingung tujuh keliling, lantaran mereka terhempas oleh manusia manusia yang berkulit sama, yaitu sawo matang, berhidung pesek serta berbicara denga bahasa sama.

Debu debu jalan Daendels itu sempat memasang telinga mereka dan menyelipkan tubuhnya pada roda becak, kaca gerobag mi ayam, dan tempat terselip lainya untuk mengetahui teriakan nyaring manusia manusia yang terhipnotis untuk berseteru dengan  lainya yang  terus saja menghamburkan enerji dan amarah kepada kawanan manusia lain yang serupa dan diikrarkan menjadi musuh mereka. Musuh yang saling tidak mengetahui satu sama lainnya, mengapa mereka lupa akan makna persahabatan.

“Bakar rumah mereka, bakar apa saja milik mereka “ teriak salah satu manusia yang bermata garang, sambil mengepalkan tinjunya serta berdiri di posisi paling depan. Sementara manusia manusia lainya yang berdiri di belakangnya terus saja melempar apa yang dimiliki ke arah manusia manusia lainya yang bergerombol di sebrang jalan.

“Ayo maju terus..ayo sergap mereka dan usir mereka” sebuah teriakan lantang terdengar.

“Majulah kau manusia laknat, kami tidak takut !” jawab salah satu manusia lain di sebrang jalan, yang bersembunyi di balik barikade dari batang pohon Akasia yang dirobohkan, bangkai mobil yang terbakar. Sementara di atas barikade beterbangan bom molotov dari dua arah. Semua batu dari bebagai ukuran telah mereka usung untuk meliampiaskan kebencian dan kekecewaan pada manusia lainnya yang dianggap jahanam dan durjana, entah dari sisi yang mana, mereka sendiri tidak tahu. Hitam kelam warna
3
wajah mereka semua hampir sama dengan debu debu jalan  Daendels  yang tak pernah diam dan selalu larut dalam prahara yang ditebar manusia, dari jaman Majapahit hingga kini.

Debu debu jalan Daendels  serentak bersama melemparkan pandang ke arah  beberapa manusia yang berseragam sama, yaitu bekemeja coklat muda dan bercelana coklat tua dengan mengibarkan bendera putih, di belakang mereka berjalan perlahan mobil yang memuntahkan suara sirene memekakan telinga. Terdengar suara lantang dari megaphone yang dijinjing manusia yang berdiri di tengah.

“Hentikan, hentikan semuanya saudaraku “

Satu dua bom molotov berjatuhan tidak jauh dari kerumunan orang berbaju coklat itu.
Namun beberapa saat kemudian suasana mencekam menjadi meluruh.

“Kami minta saudara jangan menyerang kami, kami hanya mengajak saudara semua untuk berunding. Majulah ke depanku siapa yang menjadi pemimpin kalian”

Untuk beberapa saat hujan batu dan benda lainya berhenti, hanya teriakan dan pekikan memecah atmosfir siang hari itu. Debu debupun kini mengendap di sembarang tempat dengan tetap memasang telinga mereka. Debu debu jalanan  kini mulai berdiri tegak lantaran telah kembali lagi nyali mereka,  yang sekian lama terpagut prahara yang ditebar dua kelompok manusia.

“Lihat, peperangan ini telah selesai” pekik salah satu debu.

“Belum tentu, mereka tak segampang itu “ jawab debu lainnya.

“He,..darimana kamu tahu ?”

“Aku lihat wajah mereka masih merah merona”  jawab debu yang tadi.

“Ah, sudahlah apa arti debu seperki kita yang terhempas kesana kemari tak punya daya” tutur debu yang berada di tumpukan paling bawah.

Tak lama kemudian semua debu debu jalanan yang mengusung seribu kebimbangan itu menjadi terbungkam seribu kata, tatkala sekelompok manusia dari arah sebelah kiri jalan  mendatangi manusia manusia berseragam coklat, seraya mengibaskan bendera putih. Namun debu debu itupun menjadi tercengang  tatkala pula menyaksikan sekumpulan kepala manusia muncul dari balik barikade yang digelar di sebelah kanan jalan. Mereka kini malah berdiri dengan sorot mata yang masih memendam rasa amarah dan curiga kepada manusia manusia yang muncul dari sebrang jalan mereka. Suasana kembali mencekam dan masih menghantui jalan kota yang meradang bara permusuhan,  terutama bagi  debu debu yang memusari jalan itu.

Detik dan detik terus berlari menembus atmosfer kota yang panas itu, sepanas dua kelompok manusia yang kini berhadapan untuk saling mengumpat, memaki atau bahkan saling menyalahkan tanpa adanya hasrat untuk bersama mencari titik temu, meski matahari telah mulai condong ke barat. Biru langit mulai sedikit gelap, lampu lampu kota telah mulai menyala di sepanjang jalan yang lengang bagai jalan kota mati. Namun kedua kelompok itu masih terus menggulirkan nafsu amarah, meski semua benda keras yang tergenggam di kedua tangan mereka telah mereka serahkan kepada sang juru damai antara mereka. Namun entahlah, hanya matahari fajar esok hari saja yang akan menjadi saksi esok pagi, apa mereka masih menyabung nyawa dengan saudaranya sendiri ataukah mereka akan memulai  kehidpan ini dengan damai, sedamai debu debu jalanan yang sudah tak bertenaga lagi, lunglai dan nestapa di sepanjang jalan mati itu***

Cakrawala di Kaki Langit



Sunyi di batas kota demikian mencekamnya,  jalan yang terhampar di depanya masih menyisakan basah dari gerimis tadi malam, jejak air gerimis tadi terus saja berkawan dengan kabut dingin yang mencekam dan terus menebarkan dingin yang menggigit kulit dan tulang. Sebentar sebentar terdengar deru mobil bak terbuka yang mengangkut sayur, menerobos kabut pagi di remang jalan desa yang berkelok dan licin.
Tetapi bagi lelaki tua itu,  hari hari yang bergurat apa saja tak pernah membuatnya surut kebelakang,  meski dia harus terus menyeret sebelah kakinya yang lama tertikam penyakit uzur. Dengan dibantu  bilah bambu yang menjadi kawan setianya, hari hari yang memusarinya terus saja ditundukan meski dengan tatapan mata yang penuh asa, tak peduli pada usianya, tak peduli penyakit yang merongrongnya apalagi menghadapi segenggam hidup yang mesti harus dia hadapi.
“Antarkan aku, hai sang waktu !, untuk segera  menghadap langit di ujung cakrawala !.Biarkan aku berkumpul kembali dengan istriku Suminah dan anaku-anaku di istanaMU !” , kerap kali getaran hati itu muncul di beranda jantungnya, apabila dia merasakan sebuah kerinduan yang dalam pada istri dan kedua anaknya yang terlebih dahulu meninggalkanya. Tapi bila sinar mentari mulai menyeruak lewat celah celah dinding papan rumahnya, lelaki tua itupun mulai terhenyak untuk memunguti liku hidupnya. Basuhan air dingin dari pancuran di belakang rumah selalu bisa menyegarkan tubuhnya. Diapun selalu mampu menepiskan bayang kebahagian masa lalunya yang kini sirna.
***
Hutan jati yang masih kelihatan gelap kini sudah tepat di depanya, terlihat semua pucuk  pohon jati yang tersebar berjejer di depanya masih belum semi, akibat pagutan kemarau ganas beberapa minggu kemarin. Karjo, lelaki tua itu mulai menyisir jalan tanah yang melintang di tengah hutan, sebentar sebentar dia menata kembali cangkul dan peralatan kerjanya yang dipanggulnya, nafas dari lelaki tua itu saling memburu, terengah tak beraturan. Namun lelaki yang berkawan sepi itu, terus saja mencari akar  dan tunggak jati sisa penebangan beberapa lama sebelumnya  yang terpendam ,  untuk dijadikan arang. Meski dia bisa saja menebang pohon jati yang kokoh di sekelilingnya, namun dia sama sekali tak pernah berniat melakukan pekerjaan biadab itu.
Wajahnya menyunggingkan senyum ceria, kala dia menemukan sisa batang yang agak besar setelah sekian kali dia mencangkul tanah yang basah di depanya, seketika itu  cangkulnyapun di letakan di pinggirnya dan diapun melipatkan kakinya untuk duduk beristirahat. Kala istrinya Suminah masih hidup, tanpa diminta olehnya Suminah segera menyodorkan teh hangat yang di bawanya dari rumah, terkadang bekal yang dibawanya dilengkapi pula dengan singkong rebus atau penganan dari ketan untuk sekedar mengganjal perutnya.
Apalagi kala ke dua anaknya masih hidup, dia tidak perlu repot repot mengais sesuap nasi hingga ke tengah hutan jati. Karena Karmo, anaknya yang sulung dan Mardiyatun adiknya, tidak pernah duduk berpangku tangan mengais nafkah untuk sekedar menafkahi dia dan istrinya. Meski kedua putranya hanya menjadi seorang tukang becak dan buruh cucian di kota. Namun Karjopun berusaha sekuat tenaganya untuk melupakan masa indah dan bahagia miliknya, meski saat ini baginya hidup adalah sebuah perjuangan yang berat dan terkadang merayu dirinya sendiri untuk berputus asa dan berharap datangnya sebuah masa indah untuk berkumpul dengan keluarganya di langit susun tujuh.
Batuk batuk yang kering dan dalam terus saja menyeruak di tengah keheningan hutan jati, di saat dia lepas beristirahat dengan sebotol air dingin yang kerap kali dia reguk membasahi kerongkonganya. Di tengah keriput wajah yang agak memucat itu, seberkas fragmen kenangan memenuhi bilik hatinya, tentang kasih sayang Mardiyatun, anak sulungnya yang benar benar tulus kepadanya, meski dia belum pernah membahagiakan putrinya, bahkan mencarikan jodoh untuk putri kesayanganya itu. Namun bila lelaki tua itu tersungkur dengan demam penyakit malarianya, Mardiyatun segera memberikan pijitan  kecil di seluruh tubuhnya, membuatkan air jahe, memberikan obat anti demam dan bila perlu mengantarkan dia ke puskesmas.
Namun demam malaria yang menyerangnya beberapa hari yang lalu mebuatnya terkapar  dan tak berdaya di bilik bambunya yang sudah lapuk. Kehadiran Mardiyatun hanya dalam ilusinya saja, yang hadir di tengah demamnya yang tinggi. Untuk pergi ke dokter diapun sama sekali tidak mampu, hanya beberapa teguk air dingin saja yang menemaninya. Saat itu dia mengharap sebuah ajal menjemputnya, demi terobatinya sebuah rindu yang dalam dan menggigitnya sepanjang waktu.
“Atun, bapak sakit ! Tolong Atun, berikan buatkan bapak air jahe dan obat, badan bapak dingin sekali “ Tak ada seberkas suarapun menjawab lengkingan darinya. Hanya gemeretak batang bambu yang menjadi dinding biliknya menjawab pertolongan dia.
“Atun, Atun..dimana kamu, bapak sudah lama tidak ketemu kamu !” berkali kali teriakan itu memenuhi biliknya, kembali lagi, tak ada satu suarapun menjawabnya.
Kini diapun terlelap dalam tidurnya, didalam tidurnya sesuatu telah membawanya bertemu dengan Suminah, Karmo dan Mardiyatun, yang kini berada di istana megah, bersanding dayang dayang dan punggawa kerajaan. Mereka berempat layaknya anak kecil yang ceria, bermain di bawah bulan purnama, saling berkejaran.
“Bapak, pulanglah “
“Atun, bapak tidak mau pulang, bapak masih ingin bermain denganmu “
“Tidak bapak !, bapak harus pulang. Bukan disini tempat bapak !”
“Tapi Atun !, kapan kita bertemu lagi ?”
“Entahlah, pak.Atun tidak tahu. Sekarang bapak pulang saja. Besok masih ada waktu kita bertemu lagi, sekarang pulanglah !”
“Tapi berilah bapak janji, untuk ketemu kamu, abangmu dan emak !”
“Atun janji, pak !, tapi entah kapan Atun tidak tahu !”
Bayang putih  Atun, Kasmo dan istrinya kini meredup dan menghilang. Lelaki tua itupun  siuman kembali. Sebuah rasa sedih menyelimutinya. Dinding bambu biliknya kini terbujur sepi dan dingin. Keinginan berkumpul kembali dengan semua keluarganya kali ini sirna begitu saja, karena Tuhan yang Kuasa menghendaki lain, lelaki tua itu masih dikodratkan untuk menyisir hari harinya yang berat. Diapun sigap menjemputnya, dan di pagi ini diapun segera menjelajah hutan jati, untuk membuat arang kayu dan dijual ke tengkulak demi sesua nasi untuk beberapa hari ke depan.
***
Batang dan akar kayu jati yang lama terpendam di tanah dia sayat kulit luarnya hingga tinggalah batang yang bersih,  kemudian  dia bakar dengan membuat api dari  daun dan ranting jati yang berserakan di hutan jati. Setelah cukup bara api, batang dan akar yang terbakar itu dia tutup dengan tanah yang tipis. Batang dan akar yang menghangus itu dia biarkan beberapa hari di hutan jati.  
Setelah terlihat mentari condong ke barat,  lelaki tua itupun pulang untuk beristirahat di rumah selama beberapa hari, timbunan arang yang belum jadi dia tinggalkan begitu saja, entah ada  atau tidak makanan yang bisa untuk mengganjal perutnya di gubug bambunya. Sayup terdengar desiran angin pancaroba yang menerpa tubuhnya sepanjang perjalanan menuju gubug bambunya. Meski gejolak perutnya yang belum terisi makanan tidak kalah teriakanya ketimbang desir angin panvaroba.
Reman gubug bambunya, memaksanya untuk segera rebah di ranjang bambu berlapis kasur tua yang sudah mengeras, entah karena angin pancaroba yang menggigitnya atau karena kondisi tubuhnya yang sudah melemah, lelaki tua itupun tersungkur di atas kasur pengap. Seluruh tubuhnya terasa lemas,  semua sudut bilik bambunya terlihat kabur.
“Ya Tuhan, tolonglah aku !, ampunilah dosa dosa hambamu yang lemah ini !”, sepotong kalimat keluar dari bibirnya yang pecah dan keriput.
“Bapak, ada apa !”
“Atun, tolonglah bapakmu, bapak sudah tidak kuat lagi “
“Baik, pak !, rebahlah di pangkuan Atun ?”
“Atun, bapak di mana ?”
“Jangna sedih, pak !. Bapak akan Atun ajak pergi jauh menuju cakrawala di kaki langit untuk berkumpul dengan emak dan Kak Kasmo “
Wajah lelaki tua itupun berseri bahagia bersmaan dengan lepasnya nafas terakhir.